Novel : Cerpen Catatan Harian Penderita Kangker Payudara Stadium Akhir

Novelrw.Com Cerpen Catatan Harian Penderita Kangker Payudara Stadium Akhir 2017/2018 Dari dalam kontrakan terdengar suara yang tidak begitu jelas nampak rebut, namun aku tidak pernah menaru curiga apapun pada suara-suara gemuruh itu, waktu masih menunjukan pukul 03:00 pagi, meski hari sudah hampir subuh kami baru saja tidur, tujuan kami adalah menunggu mobil yang sedang parkir di depan kontarakan, tidak ada garasi khusus hanya terparkir sekitar 4 meter dari pintu kontrakan dipinggir jalan. 

Aku kira suara berisik kecil yang di dengar itu ibunda yang sedang terbangun tidak ada kecurigaan sedikitpun. Tidur malam ini terbangun karena suara air kamar mandi yang sudah mulai penuh terisi dan berencana untuk mematikan aliran air dari meteran langsung. Aku bergegas untuk membuka pintu rumah karena jika terlambat menutup biasanya kontrakan akan dipenuhi air sampai ruangan depan tempat kami tidur.


Novel : Cerpen Catatan Harian Penderita Kangker Payudara Stadium Akhir

Akupun tidak ingin hal itu terjadi setelah mendengar dengan spontan aku bergegas dan beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu. Entah kenapa perasaan mulai tidak enak seolah ada firasat yang kurang baik. Sesaat setelah membuka pintu ternyata benar firasat ku. mobil yang telah terparkir di depan tidak ada lagi. Aku berusaha memberitahu kepada yang lain. Dalam hati masih berfikir positif “Mungkin dipakai dengan supir atau sedang pergi keluar” Namun setelah ditanya.

Aku : Kemana mobil kok ngak ada ?

Kakak : Ngak ada gimana (Sambil segera bangun dari tidur)

Aku : Mobil kita tidak ada lagi.

Segera kakak memberitahu kepada anggota lainnya, tidak banyak yang aku pikirkan kira-kira jika harus mengganti kisaran harga berapa. Mobil Isuzu Panther keluaran tahun 2003 keadaan masih mulus, jika dipasaran sekitar 80 juta sampai 100 juta untuk mobil berbahan bakar solar satu ini. Mobil yang kami gunakan bukanlah milik sendiri melainkan hasil pinjaman sewa kepada teman dekat Ibunda. Jika hilang konsekuensinya harus mengganti dengan sejumlah harga mobil tersebut. Kami menggunakan mobil itu untuk tujuan mengantar Ibunda cekup kerumah sakit.
Hari itu adalah hari yang bersejarah sepanjang dua tahun sejak Ibunda sakit, mengapa kami bilang bersejarah, karena setelah menunggu dua tahun akhirnya Ibunda mau diajak kerumah sakit. Itupun bukan untuk dirawat melainkan hanya sekedar periksa saja. Tetapi bagi kami sudah cukup membahagiakan karena sudah mau diajak kerumah sakit, untuk menempuh waktu perjalanan dari tempat tinggal kami ke rumah  sakit membutuhkan waktu sekitar 8 jam perjalanan, karena membawa orang sakit. 

Untuk  menggunakan jasa trevel ataupun bus umum tidak memungkinkan karena Ibunda tidak tahan duduk lebih dari 1 jam, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa mobil. Setelah mencari kesana-kesini akhirnya Ibunda memutuskan untuk menggunakan mobil teman dekat beliau. Perjalanan yang kami tempuh terasa sangat membahagiakan karena untuk kali pertama ibunda mau diajak periksa kerumah sakit. Meski belum sedikitpun mendapatkan tindakan medis kami sudah cukup senang.
Perjalanan kami terasa biasa diselimuti beberapa harapan akan kesembuhan beliau. Tidak ada firasat buruk atas perjalanan hari ini. Seperti pada umumnya perjalanan 5 orang dalam satu mobil yang kami sewa, setelah berlajan 8 jam akhirnya sampai di kontrakan ku. Waktu masih menjunkan pukul 17.49 Wib, bersamaan dengan waktu Sholat Magrib akhirnya kami sampai dengan selamat di kontarkan. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan menyantap makan malam pada pukul 20.00 Wib jadwal cekup Ibunda itu berarti masih beberapa jam kedepan, waktu tersebut kami gunakan untuk istirahat, makan, dan mandi kemudian segera menuju salah satu rumah sakit umum di provinsi tempat kami tinggal.
Sejujurnya itu adalah moment yang sangat dinantikan bisa mengajak Ibunda kerumah sakit mengingat sudah hampir dua tahun sejak pertama sakit Ibunda selalu menolak diajak kerumah sakit. Itu adalah kali pertama Ibunda kerumah sakit, selama ini beliau hanya berobat dengan ramuan herbal yang diraciknya sendiri, kalau masyarakat desa kami menyebutnya obat kampung, dari mulai kunyit putih, kulit manggis, daun sirsak, benalu yang tumbuh dibatang kopi atau tumbuh dibatang jeruk, jamu-jamuan. 

Hampir semua jenis obat herbal sudah dicoba semua. Hasilnya dalam dua tahun keadaan Ibunda bukan malah membaik melainkan sebaliknya semakin lama kondisi semakin lemah. Badan yang dulu segar dan gemuk perlahan menyusut meninggalkan kulit dan tulang saja, bahkan sejak 6 bulan terakhir ini Ibunda drop total. Meski belum berobat kami sebagai anak sudah memiliki sedikit pengetahuan mengenai penyakit yang di derita Ibunda, apalagi kita sekarang hidup dijaman serba online dimana pengetahuan mengenai salah satu penyakit banyak dimuat di website online. 

Kami hanya bisa memperdiksi penyakit yang Ibunda derita adalah jenis kangker payudara, kebetulan juga Ibunda mulai batuk-batuk dan kami kira kangker itu suda menyebar ke organ seperti paruh-paruh. Namun itu masih prediksi kami. Sesampainya dirumah sakit, aku bersama saudara kandung ku mulai registrasi untuk ke Poli Penyakit dalam sesuai dengan rekomendasi salah seorang satpam dirumah sakit tersebut. Akhirnya kami menuju kesalah satu dokter Spesialis Penyakit dalam. Setelah menunggu lebih dari 1 jam.
Ibunda yang tidak kuat lagi berjalan ada di kursi dorong menunggu dengan sabar, namun setelah masuk dan menemui dokter dan diberikan penjelasan bahwa Ibunda salah dokter, seharusnya ke Poli Bedah Onkologi, kemudian kamipun memutar arah dan menuju ke bagian dokter Onkologi. Satu menit saja kami telat tidak akan bertemu lagi karena prakter hampir tutup. Alhamdullah setelah di nego-nego bisa menerima karena alasan salah tempat berobat. 

Tidak banyak yang bisa dijelaskan oleh dokter hanya memberikan keterangan bahwa Ibunda harus banyak dilakukan pengecekan, ada 4 pemeriksaan yang akan Ibunda jalani, pertama pengecekan darah, pengecekan melalui rongsen bagian punggung, kemudian pengcekan USG, dan yang terakhir pengcekan Sel yang terkena penyakit.
Malam ini hanya bisa melakukan cek Darah saja, nah 3 pemeriksaan dilakukan pada besok harinya. Kondisi Ibunda juga sudah sangat lemah. Namun beliau nampak semangat menunggu proses pengecekan dengan sabar. Malam mulai larut akhirnya kami kembali pulang ke kontrakan dan menunggu besok untuk pengecekan berikutnya. Tepat pukul 21.30 Wib kami sampai kembali ke kontrakan. 

Ibunda dan bersam Ayah serta sopir yang tidak lain kakak ipar langsung memutuskan untuk istirahat, sementara aku dan kakak belum, kami berinat untuk tidur agak larut supaya bisa menjaga mobil yang terparikan didepan pinggir jalan, ada banyak perbincangan kami malam itu sampai pada akhirnya waktu menunjukan pukul 1.48 Wib dini hari, kami berfikir bahwa hari sudah hampir pagi, sejenak kami melepas lelah tidur, pintu depan pun kami tutup rapat agar kami bisa tidur dengan nyenyak mengingat besok banyak jadwal yang harus dilakukan untuk menjaga kondisi tetap fit kami membutuhkan istirahat beberapa jam. 

Tidak ada kecurigaan apapun badan ini sudah terlalu lelah setelah seharian menempuh perjalanan luar kota, kami tidur dengan pulas, sesekali aku bangun untuk memijat Ibunda karena beliau tidak bisa tidur dan mengeluh sekujur tubuhnya sakit. Sekitar pukul 2.30 Wib akhirnya aku mulai tertidur. Meski tidur pikiran ini masih kemana-mana disatu sisi aku memikirkan anak dan istri yang jauh diluar kota, disisi lain memfokuskan untuk perobatan Ibunda apalagi semua itu menggunakan biaya umum dan tidak menggunakan asuransi kesehatan apapun. 

Pikiran ini terpecah belah, tidurpun tidur ayam, mata terpejam tetapi telinga masih mendengar. Antara kondisi sadar dan tidak sadar, sayup-sayup aku mendengar suara bunyi seperti ada orang yang tengah membuka pintu mobil,aku sedikit tidak curiga sampai akhirnya aku benar-benar tertidur pulas. Kesokan harinya pukul lima pagi aku berencana untuk mematikan saluran air PDAM di kontrakan namun sangat mengejutkan sebab saat membuka pintu kontrakan, mobil yang terparkir di depan sudah hilang. 

Jika dihitung seluruh biaya yang sudah disiapkan untuk mengganti mobil pinjaman yang sudah hilangpun tidak cukup. Aku hanya punya uang sekitar 50 juta itupun sudah dipotong untuk biaya makan dan perobatan total ditangan hanya 20 juta sisanya akan didapat bulan depan. Setelah kejadian itu kami segera melaporkan kejadian kepada kepolisian setempat, namun karena kami hanya mengontrak dan tidak tahu kantor polisi mana yang harus dituju, dengan kondisi panik kami mendatangai semua kantor polisi terdekat, hasilnya setelah pindah tempat 5 kantor, ketemu juga Polres satu kecamatan. Kami coba melapor pukul 5.30 pagi baru ketemu pukul 9.00 pagi.
Rasanya sudah mau nyerah cari kantor polisi yang tidak kunjung ketemu, meski pada akhirnya ketemu juga. Dari mulai Polda sampai 4 polres yang kami datangi semuanya salah saat mendatangi polres terakhir barulah ketemu. Pelaporan tidak lama kemudian dilakukan olah kejadian perkara hasilnya tetap sama, mobil yang hilang tidak akan ketemu lagi. Keputusan awal setelah selesai melapor kami memutuskan untuk pulang saja langsung dan membatalkan niat untuk berobat Ibunda karena jika dihitung uang yang untuk berobat saja belum cukup malah kehilangan mobil, apalagi kami hanya pinjam berarti harus mengganti. 

Kondisi keuangan kami tidak cukup baik bahkan kami bukan berasal dari keluarga kaya. Semua keluarga ingin segera pulang setelah kejadian itu. Apalagi Ibunda kondisi sedang parah-parahnya ditambah dengan masalah besar seperti itu kehilangan mobil pinjaman. Kadang aku berfikir bahwa semua itu mungkin ujian dari Tuhan untuk kami sebagai keluarga, namun disisi lain aku berfikir mungkin itu azab yang diberikan tuhan atas semua dosa besar yang pernah dilakukan dulu. 

Seandanya semua setuju untuk pulang dan membatalkan periksa kedokter itu juga tidak akan berdampak baik karena Ibunda yang kondisi lemah baru sampai tidak akan kuat untuk langsung naik kendaraan belum lagi ditambah dengan beban pikiran seperti itu. Aku memutuskan dan berusaha menguatkan kepada seluruh anggota keluarga untuk tetap melanjutkan periksa kedokter. Jangan sampai sudah dapat musibah tidak dapat apa-apa.
Membeli mobil kami tidak mampu sekarang harus mengganti mobil orang lain yang sudah kami pakai. Untuk menangispun aku tidak bisa meneteskan air mata lagi. Sore ini jadwal cek up USG Abdomend dan Rongsen meski harus menunggu beberapa jam akhirnya selesai juga, tujuan kami belum selesai karena harus periksa Sel ditempat prakter dokter berbeda. Setelah selesai akhirnya dengan menggunakan Go-Car kami lanjut untuk periksa Sel. 

Dari tempat praktek dokter tersebut kami harus menunggu beberapa jam, menungu antrian panjang, mendapat giliran paling akhir mengharuskan kami untuk menunggu lebih lama, apalagi harus naik beberapa lantai tanpa ada lift. Jangankan untuk naik tangga berjalan saja ibunda sudah tidak kuat. Meski begitu tidak ada pilihan harus naik. Dari ruang praktek dokter yang memeriksa Ibunda kami mulai mendapatkan kejelasan mengenai penyakit yang di derita Ibunda. 

Setelah melalui pemeriksaan dan cek sel hasil keluar satu jam kemudian, aku dan kakak memutuskan untuk mengambil hasil berdua kemudian orang tua kami langsung disuruh pulang ke kontrakan. Apalagi kondisi pikiran kami sedang tidak baik karena baru saja kehilangan mobil dan harus memikirkan bagaimana cara untuk mencari uang agar bisa mengganti mobil tersebut disisi lain kami juga baru menunggu hasil dari dokter , tidak banyak yang bisa dikatakan dokter.

Dokter : Hasil Ibu kalian sudah keluar. Kalian harus sabar ya karena beliau positif menerita penyakit kangker payudara ganas. Yang sabar ya.

Saya : Iya dok, terima kasih bagi kami beliau sudah mau diajak periksa saja kami sudah sangat bersyukur karena sudah hampir 2 tahun ibu tidak mau diajak kerumah sakit dan baru sekarang mau diajak.

Dokter : Kalian harus bersabar dan berbesar hati ya.

Saya : Iya dok, kalau boleh tau Stadium berapa dok ?

Dokter : Untuk stadiumnya kita belum tau karena belum pernah dingkat, biarlah besok dokter Yamin saja yang memberikan kesimpulan dan penjelasan sejelas-jelasnya ya.

Saya : Iya Dok, Berapa Biaya Periksa.

Dokter : 550 rb.

Saya : Sembari mengambil uang dalam kantong celana. Terima Kasih dok sekali lagi kami ucapkan.

Dokter : Iya yang sabar aja ya.

Kami beruda akhirnya berunding apakah hasil tersebut harus segera diberitahukan kepada Ibunda atau harus disimpan, namun kami sudah tau melihat secara pasti kondisi Ibunda prediksi kami sebelumnya mungkin ada benarnya mengingat Bagian payudara sebelah kanan sudah pecah, kemudian bagian kanan sudah mulai mengeras, dan di bawah kedua ketiak beliau sudah banyak menyebar kecil-kecil begitu juga pada bagian perut. Kami memutuskan untuk segera memberitahu Ibunda sepulang dirumah. 

Namun usaha itu gagal setelah kami sampai di kontrakan melihat wajah Ibunda tersenyum menunggu hasil, nampak jelas bahwa ada keinginan dan harapan untuk sembuh yang kuat dari dalam diri Ibunda. Saat kami sampai mulut ini tidak bisa terucap, kami tidak ingin merusak harapan Ibunda untuk sembuh, hanya bisa mengalihkan pembicaan dengan sepotong alasan :

Ibunda : Bagaimana Hasilnya nak ?

Kami : (Nampak gugup ) Belum dapat hasil karena kesimpulannya akan dijelaskan besok oleh dokter yang berbeda jadi hari ini baru cek saja.

Ibunda : O Gitu berarti harus menunggu sampai besok, kalian tidak perlu menutup-nutupi hasilnya karena Ibu juga sudah merasa memang kayaknya sudah parah.

Saya : Iya Buk, tidak usah dijadikan pikiran kita juga masih harus menunggu sampai besok, Ibu harus tetap semangat, setiap penyakit pasti punya obatnya.

Ibunda : Iya, Pengen istirahat capek nunggu kelamaan tadi.

Kami menutup perbincangan tersebut tanpa memberitahukan hasilnya. Besok merupakan waktu yang sangat dinanti bagi saya dan keluarga karena kesempulannya baru diketahui. Kami merasa bahwa Ibunda tidak perlu ikut cukup saya dan kakak saja. Kedatangan kami sudah ditunggu oleh dokter karena Ibunda salah satu pasen dengan kondisi paling gawat jadi dokter langsung memberikan penjelasan atas kesimpulan dari 4 hasil cek itu, kesimpulannya adalah Ibunda positif menderita penyakit kangker payudara ganas stadium akhir, sudah menyebar keseluruh tubuh dari mulai paruh-paruh, Pankreas, Hati dan semua organ tubuh, hanya saja jenis kangker yang Ibunda derita tidak menyebar ke tulang dan otak, pada bagian ketiak dan area leherpun sudah dipenuhi dengan bagian kecil kangker, bagian kanan payudara Ibunda sudah habis menjadi luka dalam, dan sebelah kirinya hampir mau pecah. Pada tangan kanan Ibunda sudah membengkak seukuran lengan. Paruh-Paruh beliau penuh dengan cairan. Yang disampaikan oleh dokter.

Dokter : Eeeeem ini sudah menyebar kemana-mana sudah keseluruh organ. Udah ngak bisa dioperasi. Paruh-Paruh, Hati, Pankreas, menyebar semua dibagian ketiak kanan dan kiri saja sudah banyak. Ini sudah telat udah ngak bisa diobati.

Saya : Iya dok kami juga sudah memprediksi, jadi dok udah stadium berapa Ibu saya.

Dokter : Kalau kondisi saat ini udah stadium akhir, sudah tidak bisa diobati lagi, tapi tetap kita lakukan perbaikan fisik umum dan dikemo.

Saya : Keman kemonya dok.

Dokter : Ini saya berikan surat rujukan kerumah sakit umum ya, dirawat dulu disana, harus cepat dibawa ya.

Saya : Iya dok terima kasih.

Dokter : Iya Harus bisa berbesar hati ya.



Setelah hasil kami peroleh dan berunding beberapa saat akhirnya keputusannya adalah memberikan kabar yang cukup gawat ini kepada kedua orang tua termasuk Ibunda. Namun saat sampai dirumah lagi-lagi kami tidak mampu mengatakan hal tersebut secara terus terang karena dari kejauhan sudah terlihat jelas senyum dengan penuh harapan kami yang pulang dari rumah sakit membawa obat untuk beliau. Terlebih dahulu kami mengajak semuanya untuk makan sesaat setelah itu yang bisa kami katakan hanya Ibunda menderita penyakit kangker payudara ganas dan hanya sebatas itu selebihnya tidak bisa keluar dari mulut.
Namun meski hanya mengetahui hasil ibunda sudah cukup senang berharap ada obat untuk menghilankan keluhan seperti seluruh badan terasa menarik dan sangat pegal, kemudian rasa pedih dibagian kangker yang sudah pecah tidak kunjung hilang, dan batuk serta sesak nafas yang berpenjangan sesekali Ibunda Mual dan muntah bahkan hampir setiap hari tidak tidur malam. Kami tidak ingin menghancurkan harapan beliau terus mencoba menyemangati beliau, jangan menyerah terus berjuang. Namun setelah pembicaraan itu pertimbangan keputusan untuk kemoterapi menjadi pembahasan, kami tidak ingin kondisi Ibunda semakin memburuk setelah dilakukan Kemoterapi. Akhirnya memutuskan untuk pulang sambil menyelesaikan semua permasalahan termasuk kehilangan mobil.
Sekitar 5 hari kami di kontrakan kemudian memutuskan untuk menyewa mobil trevel untuk sekeluarga dan pulang, aku tidak ingin menghancurkan harapan Ibunda untuk sembuh dengan segenap hati menanggapi semua pertanyaan apakah ada obat untuk penyakitnya agar lebih enakan. Aku tidak bisa menjawab banyak karena dari dokter tidak diberikan obat apa-apa. Akhirnya aku memutuskan untuk kesalah satu pengobatan herbal untuk membeli satu paket obat herbal sekitar 2.5 juta. 

Meski kami tau betul bahwa pengobatan alternatif tidak akan mampu mengobati, tetapi paling tidak itu bisa membantu memulihkan kondisi seperti HB rendah, ataupun lemas. Paling tidak bisa memberikan harapan baru meski harapan dari pengobatan alternatif yan bisa menyembuhkan adalah palsu. Paling tidak itu bisa menghibur dari pada tidak membawa obat sama sekali. Keputusan kami untuk segera pulang dan menyimpan hasil pemeriksaan atas penyakit ibunda merupakan langkah yang bisa kami lakukan, karena menurut prediksi bahwa ibunda mungkin tidak akan bisa sembuh lagi dan mungkin tidak akan bertahan lama. 


Harapan kami ibunda tidak melakukan kemoterapi dan kami beralasan bahwa menunggu sekitar setengah bulan dulu sambil menunggu rekasi obat yang diminum. Hanya saja baru 10 hari Ibunda sudah merasa semakin sesak dan beliau rasa tidak ada kemajuan apapun dari obat tersebut, akhirnya beliau meminta sendiri untuk di kemoterapi. Mengingat biaya Kemo yang sangat mahal dan kami tidak mampu akhirnya Ibunda memutuskan untuk berobat menggunakan Askes, karena beliau adalah seorang PNS aktif. 

Aku bergegas mengurus surat menyurat untuk berobat melalui jalur sistematis, dari mulai rujukan puskesmas atua dokter keluarga, kemudian kerumah sakit terdekat baru dirujuk kerumah sakit provinsi. Akhirny selesai dan kami kembali pergi ke rumah sakit provinsi untuk kemoterapi. Meskpin dalam hati kami merasa berat, hanya saja yang kami takutkan ini adalah permintaan terakhir Ibunda. Setelah proses panjang akhirnya Ibunda bisa dirawat meskih harus menunggu sekitar 3 hari sampai bisa dirawat. Dari kamar 3 ruang lematang 1.1 mungkin Ibu ku akan menghabiskan hari-harinya disini entah sampai kapan.

Subscribe to receive free email updates: