Cerpen Life Full With Surprise Things...

Cerpen Life Full With Surprise Things... Bagian 1 Finnaly : Jam dinding menunjukkan pukul 09.45, kuketukan hak sepatu tinggiku ke lantai keramik putih berkali-kali sampai pria yang duduk di sebelahku melirik ke arahku sekilas. Tuk..tuk..tuk… Hentakan itu mengeluarkan suara nyaring tapi juga mungkin mengganggu sesama pengguna ruangan ini. Ini semua aku lakukan tanpa sadar karena menghindari rasa gugupku, sudah terlalu lama aku menunggu di ruangan ini.

Rasa dingin juga menusuk kulit yang berasal dari air conditioner yang dinyalakan sampai batas maksimal, mungkin saja, dinginnya sampai menusuk kulitku yang tebalut kemeja putih dan blazer hitam. Yah….hampir satu jam aku duduk di sofa merah beludru ini, menunggu kenapa namaku belum juga dipanggil.



Sebenarnya hari ini adalah wawancara pekerjaanku di sebuah perusahaan advertaising terkenal di kota Bandung. Tiga hari yang lalu ketika ibuku menyuruhku membersihkan kamar milik adik laki-lakiku, tiba-tiba suara berdering terdengar dari saku celanaku, aku lihat ada nomor yang tidak dikenal tapi aku angkat saja mungkin ada sesuatu yang penting.

Dan ternyata telepon siang itu adalah jawaban dari doaku, sebuah panggilan wawancara dari sebuah perusahaan advertaising yang sudah lama aku idam-idamkan. Lamunanku tebuyarkan oleh sebuah panggilan keras seorang wanita tinggi berambut agak coklat yang terikat rapi ke belakang, dia memanggil namaku dengan nyaring,

Wanita Berambut Coklat : “Shopia Hilman….
Shopia : “Ah….akhirnya…. bisikku lega. Ya…saya disini,” Secepat kilat aku berdiri dengan sebelumnya membetulkan kancing blazer yang terbuka satu dan merapikannya kemudian dengan langkah mantap mengikuti wanita tinggi itu ke arah ruangan lain.
Wanita Berambut Coklat : “Silahkan masuk…manajer HRD (human resource development) sudah menunggu anda di dalam, persiapkan diri anda dan rileks jangan terlalu gugup…dia kelihatan menyeramkan tapi ramah, bisik perempuan itu menasehatiku, sambil menepuk bahuku pelan. Senyumnya masih terkembang sampai pintu ruang HRD tertutup kembali.
Sastra : “Selamat siang…. saudari Shopia Hilman, silahkan duduk, nama saya Sastra Budiman panggil saja pak Sastra, perintah laki-laki di depanku dengan suara berat. Usianya mungkin sekitar 50 tahunan, memakai kemeja biru tua serasi dengan neck tie hitam bergaris merah dengan sorot mata yang bersahabat meskipun wajahnya memiliki tipe keras.
Shopia : “Selamat siang pak jawabku sambil menggeser kursi yang ada di depannya dan perlahan mendudukinya,

kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan meneliti tiap sudutnya ketika pak Sastra sedang membuka-buka dokumen riwayat hidupku. Suaranya membuatku fokus kembali menatap wajah pak Sastra, pada awalnya dia menanyakan dimana rumahku dan kapan menerima panggilan dari kantor. Pertanyaannya semakin menjurus ke arah mengapa mengajukan lamaran dengan posisi yang aku pilih, sambil terselip guyon-guyon yang tidak membuatku tegang.

Wawancara selama 30 menit berlangsung lancar dan pertanyaan bisa aku jawab dengan lancar, beliau memintaku untuk menunggu sampai pihak HRD menghubungiku kembali jika aku diterima di perusahaan ini. Aku langkahkan kakiku keluar dari ruangan pak Sastra setelah sebelumnya beliau menjabat tanganku dan mengatakan semoga berhasil dan semoga dapat bergabung di perusahaan ini.

Rasa lega menyelimutiku setelah aku keluar dari gedung berlantai sepuluh itu, logo MALCOM ADVERTISING terpasang kokoh di sebelah atas gedung. Perusahaan ini termasuk perusahaan periklanan paling bagus di kota ini, setauku pendirinya bernama Jusuf Malcom, namanya cukup terkenal dalam dunia periklanan, proyek-proyek yang di tangani perusahaan mencakup skala yang besar.

Kupandangi gedung di depanku ini, ”apakah aku bisa bekerja disini?? Pertanyaan itu muncul dalam kepalaku tiba-tiba saja, aku benar-benar berharap hal baik akan terjadi padaku di waktu ini. Semoga aku beruntung, mungkin kali ini adalah kesempatanku untuk melangkah maju. Fighting!! kemudian aku beranjak dari tempatku berdiri dengan berlari kecil meninggalkan pelataran gedung. Tiba-tiba ponselku berdering.

Shopia : Ya…halo,” jawabku semangat.
Jhon : “Shop… tolong jemput anak gue di TK, lo udah selesai wawancara belum? Gue lagi ada kerjaan di kantor ini, ibu nggak bisa jemput Gilsya. Wati izin, jadi nggak ada yang nungguin restoran. Tadi gue juga udah telpon gurunya bilang kalo yang jemput elo gitu. Bisa kan?
Shopia : “Bisa…udah selesai kok gue, nanti Gilsya biar gue jemput.
Shopia : “Oke..thank you, dan sambungan telpon di seberang terputus. “Jhon…jhon,” desahku lirih. Adik laki-lakiku ini benar-benar, batinku. Untung aku sudah selesai wawancara.

****

Bagian 2 Life full with surprise things… Aku diterima di MALCOM, harapanku akan diterima di perusahaan sebesar MALCOM benar-benar menjadi kenyataan, baru saja, setelah sebelumnya pihak HRD menghubungiku dan mengkonfirmasi bahwa aku benar-benar diterima dan bisa bekerja mulai minggu depan, sesaat aku masih belum percaya karena sudah cukup lama belum ada kabar, bahkan harapanku pupus juga perlahan-lahan untuk diterima tapi akhirnya hal baik terjadi juga it’s feel like I am touch the ground again after for a minutes flying in the air.

Pagi ini benar-benar cerah, secerah suasana hatiku saat ini, maklum saja sudah hampir satu tahun ini aku menganggur mencoba peruntungan kesana-kesini dengan mengirim beratus-ratus email dan lamaran pekerjaan ke berbagi perusahaan sambil membantu ibu mengurus restaurant keluarga kami. Julukan job seeker nomor wahid sudah menghilang dari pundakku sekarang, tinggal memulai awal baru di MALCOM dan bekerja sebaik mungkin. Perlahan aku memasuki pintu utama perusahaan dan bersiap naik ke lantai lima, ruang HRD. Lift hampir tertutup…aku berlari kecil….

Shopia : Tunggu…tunggu, teriakku. 

Dan pintu terbuka kembali, tiga orang laki-laki berada di dalam lift yang satu menahan tombol untuk membiarkan aku masuk. Dengan nafas terengah aku masuk ke dalam lift…makasih, kataku sopan. Dan laki-laki itu mengangguk. Niatku ingin menekan tombol lantai nomor lima tapi tertahan karena sudah menyala. Kuurungkan niatku sejenak, setelah beberapa saat sampai di lantai lima. Dua orang yang ada di dalam lift juga keluar di lantai yang sama.

Riko : “Oh..mbak disini juga rupanya, tanya laki-laki itu.dengan logat medan kental.
Shopia : “Iya mas…jawabku gugup, entah kenapa perasaanku jadi gugup mendekati ruang HRD. “Saya ada urusan di HRD,” jawabku sopan.
Riko : “Saya juga, sebenarnya kita berdua karyawan baru…kita di suruh ke HRD untuk orientasi dan juga pembagian divisi. Kenalkan saya Riko Simanjuntak dan yang ganteng satu ini, Danny, ucapnya sambil mengulukan tangan, baru saja aku ketemu sama Danny ini macam mbaknya sekarang.
Danny : “Aku Danny, ungkapnya sambil mengulurkan tangan, “Lho...kok sama, jawabku sambil menyambut uluran tangan Juan dan menjabat tangan Danny. Jangan panggil mbak dong, kenalin aku Shopia jawabku lancar, ternyata kita karyawan baru semua.

Memang jodoh kita bertiga ini ucap si Medan. Dan kami bertiga hanya tergelak sebentar. Danny menyarankan untuk menunggu sambil duduk di sofa depan ruang HRD. Kita tunggu aja disini, bentar lagi pasti sekretarisnya datang. Kami berbasa basi dan menanyakan apa posisi awal yang dilamar, dan benar saja setelah menunggu selama 15 menit. sekretaris HRD yang aku temui waktu wawancara menyuruh kami masuk ke ruang HRD, kuketahui nama perempuan itu Sarah. Dia sekretaris pak Sastra Budiman. Setelah mendapat informasi singkat tentang perusahaan dan sedikit sesi tanya jawab kemudian Sarah memberikan kami ID Card perusahaan kepada kami bertiga.

Ternyata aku dan Danny di marketing sedangkan Riko di IT, setelah perkenalan dengan rekan-rekan satu divisi aku diberikan job deskripsi tentang apa yang harus aku kerjakan. Job deskripsiku sebagai periset dalam divisi marketing, tugasku mencari informasi mengenai kondisi pasar, persaingan, selera konsumen, dan tanggapan terhadap iklan yang telah ditayangkan. Let’s do it, it’s just a beginning segala sesuatunya harus dikerjakan semaksimal mugkin, karena pekerjaan ini sudah lama aku tunggu-tunggu setelah sekian lama title unemployment yang juga job seekers menempel lama pada diriku.

***

Memaknai kehidupan tidak segampang seperti membeli sebataang rokok atau gula-gula. Segala sesuau butuh proses dan pembelajaran, siapa yang bisa menjalan dan mengatasi segala kesulitan tanpa pernah menyerah pasti akan mendapatkan hasil yang diharapkan meskipun itu melalui proses yang sangat lama dan membosankan. Aku selonjorkan kakiku di tangga teras depan rumah, pandangan aku edarkan ke sekeliling rumah, sudah hampir 10 tahun kami tinggal di rumah ini, pindah ke Bandung tepatnya. I am from broken home family. My parents divorce when I’m in Junior High School. Keluargaku sekarang hanya ibu, adik laki-laki dan keponakan kecilku, Gilsya.

My mother is a single parent who run a small seafood restaurant and my poor brother, dia menikah di usia muda 19 tahun waktu itu, awalnya Jhony pun belum ingin menikah dia masih mahasiswa teknik arsitektur tingkat awal di universitas, tapi takdir berkata lain, semua ini because he really loves his girlfriend and sadly, Rani, Ibu Gilsya menderita penyakit kanker hati stadium II. Tiga bulan setelah Rani lulus SMA, mereka menikah, they are is high school sweetheart.

Dua tahun setelah mereka menikah Rani meninggal, ini meningalkan duka yang teramat sangat menyakitkan untuk keluarga kami, terlebih Jhony. He’s still young with daughter and single parent now…kekuatan untuk bertahan ada karena Gilsya. Pikiranku langsung melayang ke satu bulan yang lalu, persis sama ketika aku duduk-duduk di teras rumah dan Jhonny tiba-tiba datang. Kadang ada saatnya ketika aku dan Jhony ngobrol ngalor ngidul tidak jelas kemana arahnya, sebagai saudara kandung hubunganku dan Jhony sangat dekat, kami saling mengerti dan menguatkan masing-masing, dia sering membantuku begitupun sebaliknya. Aku bertanya karena benar-benar ingin tau apa yang dia rasakan saat ini, he 25 right now and single parent for a daughter 8 years old.

Jhony : “Ngapain lo duduk di sini…nungguin cilok apa mie ayam? Ledeknya padaku.
Shopia : “Nggak…nungguin cowok cakep kali-kali mungkin lewat depan rumah, apaan si lo rese banget…lo ngapain keluar, Gilsya udah tidur?
Jhony : “Udah..itu tidur sama ibu…suntuk gue dari tadi gambar gue nggak selesai-selesai…
Shopia :“Halah….. jawabku sekenannya.
Jhony : “Gimana kemarin interviewnya, lancar?
Shopia : “lancar Jhon…interview gue selalu lancar tapi gue nggak keterima-keterima kerja juga, udah  setahun gue nganggur, hampir 50 kali gue wawancara…gue kepingin cepet kerja Jhon, bantuin ibu juga bantuin lo...restoran ibu akhir-akhir ini sepi…gue kasian sama ibu.
Jhony : “Sabar aja….Shop… dengerin gue, lo kerja ataupun enggak keluarga kita masih bisa survive kok. Tenang aja. Gue yang jamin, gue juga kasian liat ibu…ngurus restoran sama ngurus Gilsya juga tapi ya… mau gimana lagi.
Shopia : “Gue kasian sama lo Jhon….
Jhony : “Gue nggak kenapa-kenapa lah Shop, nggak usah ngerasa nggak enak sama gue.”
Shopia : “Jhon…buat kamu gimana Tuhan ngasih kita ujian kaya gini, kamu dengan keadaanmu dan aku yang kaya begini…sempet mikir Tuhan tidak adil pada hidup kita nggak si?
Jhony : “Apa-apaan si lo nanya begitu, hidup itu punya arah dan rahasia masing-masing….buat gue hidup jalanin aja Shop…nggak usah mikirin Tuhan adil apa enggak, kesuksesan seseorang ya… karena usaha orang itu sendiri nggak ada hubungannya sama Tuhan. Tuhan ada kalo kita usaha semaksimal mungkin buat dapetin apa yang kita mau. Gue nggak nyesel nikah muda bahkan punya Gilsya pun itu anugerah paling berharga dalam hidup yang Tuhan kasih buat gue. Gue hanya menjalankan hidup gue dengan rajin…gue hidup buat Gilsya, kalo gue nyerah sama keadaan entar gimana Gilsya bakal liat gue. Gue cuma pengen hidup keluarga kita berkecukupan….kerjaan gue emang baru gini aja ya walaupun gue belum dapet tender besar dari perusahaan arsitek tempat gue kerja. Prinsip hidup gue simple kok, only I can console myself. Itu aja Shop….udahlah tenang aja, bentar lagi lo pasti dapet kerja…kalo belum dapet juga gue sewa lo jadi baby sisternya Gilsya….hahahahaha
Shopia : “Sialan lo….gue nanya baik-baik juga.
Jhony : “Pokoknya percaya aja apa kata gue…oke??? Dah.. gue mau masuk dulu…mau nylesaiin gambar gue yang belom kelar.
Shopia : “Ya udah sana pergi….

Sepeninggal Jhonny, aku jadi berfikir bagaimana kami semua menjalani hidup masing-masing terlepas dari kesamaan nasib dan perjalanan hidup yang dialami, Jhony yang jalan fikirannya lebih dewasa dari pada aku. Sedangkan ibu yang tidak terlalu terbuka pada kami. Ibu jarang sekali mengungkapkan bagaimana isi hati yang beliau rasakan kepada kami putra putrinya, mungkin ibu berfiikir dengan beliau tidak membagi beban yang beliau rasakan di hatinya, akan membuat kami anak-anaknya tidak terlalu berat memikirkan jalinan nasib yang menimpa keluarga kami. Tapi walupun ibu tidak pernah menyinggung sekalipun, kami tahu apa yang beliau rasakan.

Ibu bercerai dengan bapak ketika kami masih SMP, waktu itu Jhony kelas satu aku kelas tiga SMP setahun kemudian kami pindah dari Jakarta ke Bandung. Ibu butuh suasana baru. Selama tinggal di Bandung ibu berusaha keras mencukupi kebutuhan kami walaupun sudah tidak ada bapak. Setiap bulan sekali bapak masih sering mengirimkan uang pada ibu untuk biaya sekolahku dan Jhony, walaupun teknisnya mereka sudah bercerai bapak masih membiayai kami dan menopang sedikit beban ibu sampai kami lulus SMA.

Juga hobi Jhony yang suka menggambar membawa keuntungan kecil baginya karena sering sekali teman-temannya meminta Jhony untuk menggambar sketsa, entah itu untuk kado valentine buat pacar atau pesanan orang yang tertarik dengan gamabar Jhony, lumayan untuk uang saku. dengan gambar juga Jhony bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di jurusan arsitektur. Jhonny yang selalu menguatkanku dan ibu, dia anak paling kecil tapi punya pengaruh besar dalam kehidupan keluarga kami.

Dia juga tidak membenci bapak karena perceraiannya dengan ibu…yang pasti Jhonny tumbuh dewasa dengan segala macam permasalahan hidup tapi tidak pernah mengeluh atau menyalahkan siapapun. Dari SMA pun dia selalu mandiri dan melindungi kami, dia seperti kakak buatku and I learn a lot from him.

Hidup memang tidak bisa diprediksi, kadang bisa di atas tapi juga bisa jadi di bawah. No Warning but just running. Apapun yang akan terjadi nanti sudah tergaris dalam catatan Tuhan, yang perlu kita lakukan hanya berusaha terus dan menjalan hidup sebagaimana adanya, saatnya berjalan cepat maka harus berjalan cepat tapi juga bisa juga berjalan melambat dan perlahan.

Finnaly setelah sekian lama aku juga bisa mendapatkan pekerjaan di tempat yang selama ini aku idam-idamkan, MALCOM ADVERTISING. Sekarang tinggal bagaimana aku menjalani hidupku selanjutnya, permaslahan akan selalu ada karena hakikatnya orang hidup dengan berbagai macam problem dalam hidup, tidak ada orang yang tanpa memiliki masalah tinggal bagaimana menyikapi dan mencari tahu jalan pemecahnya dengan berusaha dan bersabar. This life and fate is mystery.


***
Oleh: MEMEY KURNIATUN