Novel : Rindu Yang Tidak Akan Pernah Terobati

Novel : Rindu Yang Tidak Akan Pernah Terobati - Aku adalah tipe orang yang tidak pandai menyimpan rahasia terutama kepada orang tua, terkhusus kepada Ibu, hampir tidak ada rahasia yang aku bisa simpan dari ibu ku, meski aku berusaha keras menyimpannya hal yang sama selalu berulang, gagal menyembunyikan hal tersebut. Seperti kata ibu ku " Mata seorang anak akan selalu berkata jujur kepada Ibunya". Mata ini akan menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diucapkan oleh mulut.

Hampir setiap masalah yang sedang aku hadapi dari usia anak-anak hingga dewasa selalu ku ceritakan kepada beliau, hingga aku tumbuh menjadi pria yang tidak pernah menutupi apapun dari seorang Ibu. Rasanya ketika curhat kepada Ibu hati ini terasa sangat lega, hal sebaliknya akan terjadi ketika aku menyimpan sesuatu masalah tanpa menceritakan kepada beliau, rasa gelisah selalu tetap ada.



Mungkin aku bukan anak satu-satunya di dunia ini yang dekat dengan sosok seorang Ibu, sejak aku SMP hingga sekarang sudah memiliki anak, aku selalu menceritakan kegelisahan hati ini mulai dari masalah percintaan, pilihan studi, bahkan masalah karir, keuangan dan lainnya selalu terbuka kepada Ibunda.

Tidak ada keinginannya yang bisa aku tolak, termasuk ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama untuk pertama kalinya beliau bercerita kepada ku, tentang sosok gadis kecil yang dulu pernah menjadi muridnya sewaktu sekolah dasar, beliau bercerita panjang lebar tentang sosok gadis itu yang selalu membantu orang tua meski harus mengorbankan waktu bermainnya.

Bahkan satu ketika Ibu pernah mengatakan jika suatu saat dia bisa menjadi jodoh ku, maka dia akan merasa sangat bahagia memiliki menantu seperti gadis itu, saat itu usia ku masih 13 tahun, layaknya anak seusia itu tidak pernah mengerti apa yang dikatakan Ibu ku, barulah ketika aku tumbuh menjadi lak-laki dewasa aku mulai mengerti dari makna yang diucapkan Ibu.

Bahwa sejak SMP sebenarnya aku sudah dipilihkan jodoh, meski aku tidak menyukainya, aku selalu percaya bahwa apa yang diinginkan Ibu adalah sesuatu yang di ridhoi oleh Allah. Sejak puluhan tahun lalu aku selalu berusaha keras mewujudkan impian sang Ibu, menjadikan gadis itu Istri dan hingga sekarang kami memiliki 1 orang anak. Pada akhirnya aku merasa sangat bahagia dengan pilihan Ibu.

Itu artinya beliau memiliki cucu baru, meski dalam perjalanan cinta kamu banyak hal salah yang aku lakukan, cara salah itu adalah tanggung jawab ku, sementara keinginan Ibu bagiku adalah perintah moral yang harus aku lakukan, karena aku selalu percaya seperti apa yang beliau yakini, "Kebagiaan anak adalah kebahagiaan ibu".

Masalah pasangan pun tidak lepas dari sosok Ibu, bahkan jika aku pergi jauh tidak sanggup rasanya berpisah dengan Ibu, waktu yang paling lama berpisah dengan Ibu adalah ketika aku kuliah di luar kota hampir enam bulan sekali baru bisa pulang kampung. Saat sudah lama berpisah yang paling aku rindukan dan segera pulang adalah menceritakan semua hal yang sudah aku alami 6 bulan ini.

Rasanya tidak sabar untuk bercerita pengalaman selama di perantauan, terkadang tidak sampai enam bulan Ibu sudah mengunjungi ku, mungkin benar ikatan batin akan merasakan perasaan antara anak dan orang tua tanpa harus mengetakan. Yang paling aku ingat adalah ketika bertemu Ibu ia selalu tertawa ketika aku mencoba membawakan joks atau candaan meski terkadang bagi diri ku sendiri tidak lucu.

Kadang sering aku membawakan candaan yang sama dan berulang kali, tetapi beliau tetap tertawa lepas, entah apakah itu hanya ingin membuat ku senang atau benar-benar lucu baginya. Rasanya ketika beliau tertawa hati ini sangat senang bahkan rasa senang itu melebihi jatuh cinta pertama kalinya pada seseorang.

Ibu adalah sosok pahlawan bagi keluarga kami, terutama bagi ku, karena berkat kegigihannya ia berjuang keras banting tulang untuk membuat kami menjadi orang sukses, perjuangan beliau dimulai saat kami kecil, berjuang menyekolahkan kami ke jenjang perguruan tinggi dengan gaji 700 rb perbulan, sementara kami 3 saudara kuliah serentak karena beda usia satu tahun. 

Menyekolahkan kami 3 saudara dengan gaji 700 rb jika di hitung untuk makan saja tidak cukup apalagi untuk sekolah kami, namun beliau tidak pernah menyerah dengan keadaan, pekerjaan apapun dia lakoni asalkan halal, seperti ambil les privat tambahan di sekolah supaya dapat uang tambahan dan pekerjaan lain.

Ibu selalu berangkat mengajar pukul 6.30 pagi setelah membuatkan sarapan kami, kemudian sebelum kembali dari sekolah belau ambil pekerjaan les sekolah untuk murid-murid sekolah 6 yang ingin ujian nasional, pukul 13.30 siang beliau baru bisa pulang dan tidur sekitar 15 menit jam 14.00 para murid lainnya datang kerumah karena Ibu juga membuka les dirumah sampai jam 16.00 namun sebelum tidur siang Ibu selalu menyempatkan masak makan siang untuk kami.

Setelah selesai Ibu melanjutkan kegiatan melatih Volly sampai jam 18.00, setelah itu membuat makan malam untuk kami, sebelum istirahat biasanya Ibu mengerjakan tugas tambahan dari sekolah agar mendapatkan uang tambahan dari kepala sekolah, hingga pukul 22.00 terkadang lewat sampai larut malam. Begitulah kegiatan Ibu ku setiap hari.

Itu berlansung dari kami SMP sampai Kuliah S1, tidak ada kata istirahat untuk beliau untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Beliau tidak pernah mendidik kami untuk menjadi tangguh dengan kata-kata motivasi atau kata inspiratif, tetapi dengan melihat beliau kami sudah tau betul seperti apa kegigihan itu.

Beliau tidak pernah mengeluh dengan apa yang dijalaninya selama ini, bahkan disela-sela kesibukan beliau masih menyempatkan diri untuk mengobrol dan bercanda bersama kami, Lebih daru 10 tahun berjuang keras pada akhirnya satu persatu dari kami lulus kuliah dimulai dari kakak tertua saya, beliau lulus kemudian beberapa bulan setelah lulus fokus menekuni bidang IT dan akhirnya alhamdullilah sukses, mengantongi gaji lebih dari 10 juta perbulan sebagai pengusaha IT.

Beberapa bulan kemudian akupun lulus kuliah, pada waktu bersamaan kakak saya yang sudah sukses kembali memberikan kabar baik yaitu lulus sebagai CPNS daerah sesuai yang diimpikan oleh Ibu, Saya sendiri mengikuti jejak kakak sebagai pengusaha IT yang mampu menghasilkan banyak uang dari bidang tersebut.

Setahun dari kesuksesan kami adik saya lulus kuliah, setelah lulus adik perempuan satu-satunya kami tidak ingin bekerja karena memutuskan untuk langsung menikah, kami sebagai kakak terkejut mendengar itu, karena kami sendiri yang sudah lama merencanakan menikah belum berani mengatakan untuk menikah.

Disaat yang bersamaan saya bersama kakak tengah membangun rumah Ibu karena sudah hampir rubuh jika tidak dibangun, kami menghabiskan hampir 1 milyar untuk membangun rumah, setelah rumah idaman Ibu dibangun kami memutuskan untuk menikah di tahun yang sama, Lulus kuliah kampir sama dan menikah pun diwaktu yang sama.

Rasanya hidup kami lengkap dengan kebahagiaan, kami pun menikah menggunakan uang sendiri, hanya meminta restu kepada Ibu, meski Ibu belum puas menikmati hasil kesuksesan beliau tidak pernah mempermasalahkan keputusan kami untuk menikah. Bagi beliau membuat anak sukses adalah tugas dan kewajiban orang tua.

Seandainya ketika sudah sukses langsung menikah dan tidak lagi tinggal serumah tidak perlu dipermasalahkan, Menikah artinya Ibu akan memiliki batasan untuk menikmati hasil kami, bahkan beliau tidak keberatan karena mengerti kosekuensinya harus menjadi nomor 3 setelah menantu dan cucunya.

Tetapi beliau selalu mengetakan jika anak-anaknya bahagia tentu ia akan merasakan hal sama. Dua tahun kemudian kami bertiga memiliki anak itu berarti cucu dari Ibu langsung 3. Namun sebelum semuanya berakhir dengan happy ending timbul berbagai masalah atas kesehatan Ibunda, pada tahun yang sama Ibu di vonis menderita penyakit kangker payudara stadium IV.

Kami tidak pernah sadar bahwa beliau menyimpan penyakit itu sudah sangat lama, baru kami mengetahi ketika kondisi beliau sudah sangat parah, dan kondisi kangker sudah menyebar ke otak dan pecah. Menjalani perobatan hampir 1 tahun akhirnya Ibunda mengalami kemajuan yang sangat signifikan bahkan diluar dari prediksi dokter.

Karena sebagian besar lebih dari 75% penyakit ibu sudah hilang total. Itu artinya Ibu sudah sehat lagi dan kami bisa berkumpul bersama menghabiskan banyak waktu bersama lagi. Hasil kerja keras beliau mungkin tidak akan bisa kami balas sampai kapanpun, tetapi perjuangan beliau mengajarkan kepada kami arti dari menjadi orang tua yang hebat.

Semoga kami kelak bisa menjadi seperti Ibu amin, semoga kisah ini bisa menginspirasi. Tepat pada hari ini saat aku menuliskan kisah ini kedalam sebuah cerita agar orang lain bisa merasakan apa yang aku rasakan, membagi sebuah kisah kedalam cerita seperti yang sering aku lakukan kepada Ibu, becerita, bersenda gurau, dan saling menjaga satu sama lain.

Kini rasa rindu itu kembali datang ketika kami tidak lagi satu rumah dengan Ibunda, berada jauh dan harus berpisah karena sudah berumah tangga, kadang rasanya ingin bercerita banyak lagi dengan Ibunda tetapi sekarang tidak bisa seperti dulu lagi, karena sekarang sudah ada istri dan anak, mungkin jika dahulu bahgaia rasanya jika Ibu mendengarkan semua cerita ku, sekarang aku harus merasa bahagia ketika Istri dan anak ku bercerita tentang apa yang sedang mereka rasakan.

Semua telah berubah dan berganti, meski kita tidak akan pernah dewasa di mata orang tua, tentu kita harus menjadi dewasa ketika berhadapan dengan pasangan dan anak. Tugas Ibunda mungkin sudah selesai tetapi tugas ku menggantikan beliau baru saja dimulai. Doaku semoga aku paling tidak bisa seperti Ibu meski mungkin tidak akan bisa menjadi lebih baik dari beliau.

Meski waktu sudah berubah, saat aku sendiri terkadang aku merindukan seperti dulu bisa bercerita banyak menyampaikan apa yang aku rasakan saat ini, Kemarin untuk pertama kalinya setelah 3 bulan kita tidak tinggal satu rumah lagi, aku mengunjungi Ibu dan bercerita banyak tentang kehidupan ku sebagai ayah dan suami baru. Ada banyak kesulitan yang sedang aku hadapi dan keresahan baru yang tidak pernah aku lalui. 

Namun Ibu hanya diam saja, dari jam 7.30 pagi hingga 12.30 kami bercerita, Ibu selalu menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya terutama aku, " Senang rasanya Ibu aku bisa mencurahkan kembali isi hati ini kepada Mu lagi" meski aku sudah menikah Ibu tidak berubah masih mendengarkan keluh kesah ku. Aku juga meminta maaf karena belum bisa sepenuhnya membahagian beliau.

Tetapi entah kenapa setelah berjam-jam bercerita panjang lebar aku tidak bisa menghilangkan rindu dalam hati ini, atau mungkin kerena Ibu diam saja, atau karena pertemuan kita terlalu singkat kerena aku harus pulang dan berpisah lagi dengan mu Ibu. Sekarang aku mulai mengerti seperti apa engkau Ibu, Mungkin aku tidak akan pernah bisa sehebat dirimu menjadi orang tua.

Aku hanya anak yang rapuh tanpa Ibu, Kebersamaan kita kini tinggal menjadi sebuah kenangan yang akan aku ajarkan kepada anak ku nanti, aku ingin semangat itu diturunkan kepada anak ku nanti. Semua akan menjadi sebuah kenangan yang paling beharga dalam hidup ini, bukan karena kita tidak tinggal serumah lagi tetapi mungkin saat ini sudah giliran ku menjadi orang tua. 

Dilain waktu aku akan mengujungi Ibu lagi dan akan becerita banyak nanti rasanya tidak sabar ingin menceritakan apa yang akan terjadi nanti, Saat aku pamit untuk pergi Ibu tetap diam saja, meski sudah bertemu kenapa rasa rindu kepada ibu tidak bisa hilang. Di hari yang sama saat aku berkunjung aku melupakan sesuatu 9 Oktober tepatnya, Itu artinya itu hari ulang tahun Ibu.

"Selamat Ulang Tahun Ibu" Meski kita sudah bertemu aku tidak bisa menghapus rindu ini, Entah bagaimana aku bisa melepas rindu, yang aku tahu hanya ada satu obat rindu yaitu bertemu, mungkin rindu ku pada Ibu tidak akan pernah bisa diobati karena kita tidak akan bisa bertemu lagi, yang tersisa hanya kenangan indah bersama mu dulu.

Jika tahun lalu aku berusaha memberikan kado terbaik seperti rumah, mobil, ataupun cucu, di tahun ini aku hanya bisa memberikan doa sebagai kado terindah " Semoga Allah menyayangi mu seperti Ibu menyayangi kami saat di dunia" amin. Aku menyayangi mu Ibu, sekarang aku sudah merasa benar-benar dewasa dan ingin seperti mu, tepat di 100 hari peringatan Ibu pergi aku menyempatkan untuk berkunjung ke makam Ibu.

Aku mulai bisa menerima kepergian mu, jika sebelumnya aku merasa Ibu masih ada di dekat kami sekarang aku sadar bahwa Ibu sudah benar-benar pergi dan menyadari bahwa waktu ku sebagai orang tua baru saja dimulai, aku tidak bisa berjanji akan seperti dirimu bagi ku tidak ada orang tua yang melebihi diri ku, termasuk aku dimasa depan.

Untuk Ibu semoga tenang disana, disini anak mu yang selalu merindukan mu, akan selalu mendoakan mu. Jika seseorang patah hati untuk bisa move on dari rasa rindu adalah mencari penganti, namun jika merindukan Ibu yang sudah tiada tidak akan bisa terobati karena Ibu tidak akan pernah tergantikan. Biarlah aku menyimpan semua rasa rindu, jika memang rindu ini tidak akan pernah terobati aku ikhlas menerima semua itu, hingga nanti aku menjadi orang tua seperti diri mu Ibu aku akan selalu bercita-cita seperti dirimu.